Pengertian Waris, Faraidl dan Tirkah

Daftar Isi

Pengertian Waris

Kata waris berasal dari bahasa Arab dari kata “waritsa” yang merupakan bentuk kata masdar dari “irtsan” dan bisa juga “wirtsan-turaatsan dan wiratsatan”.

Irtsan sendiri berasal dari kata dasarnya “waratsa” yang mengandung arti perpindahan harta milik atau perpindahan pusaka.

Dalam makna yang lebih luas lagi yaitu perpindahan sesuatu kepada seseorang atau perpindahan dari sesuatu dari suatu kaum (kelompok) kepada kaum lainnya, baik berupa harta, ilmu atau kemuliaan.

Dan kata itu juga berarti perpindahan sesuatu dari Tuhan kepada manusia berupa kitab dan surga. Hasbi Ash Shiddieqy mengatakan bahwa “mawarits” jamak dari “mirats” demikian pula dengan “mauruts” yaitu harta peninggalan orang yang telah meninggal dunia yang diwarisi oleh para ahli waris. 

Pengertian Faraidh

Kata “faraaidl” merupakan bentuk jamak dari kata “faraidl”. Kata “faraidlh” mengandung makna yang musytarak (lebih dari satu pengertian).

Makna atau pengertian tersebut antara lain : bagian tertentu dari harta warisan, ketetapan yang diwajibkan, ketentuan atau ketetapan yang pasti, penjelasan, penghalalan, suatu ketentuan untuk mas kawin, menurunkan al Qur’an. 

Menurut ulama faradliyun (Ulama Hukum Faraidl) lafazh “faraidlah” diartikan semakna dengan makna “mafrudlah” yang berarti yang dipastikan kadarnya (ketentuannya). 

Pengertian Tirkah

Istilah lain dari warits dan faraidl yaitu ”tirkah atau tarikah”. Kata tirkah (bahasa Arab) dari kata ”taraka” berubah menjadi bentuk masdar ”tirkah” atau ”tarikah” yang berarti ”peninggalan si mati”.

Tirkah atau tarikah dari akar kata ”taraka” disebutkan dalam al Qur’an dengan berbagai konteks mengandung beberapa pengertian, yaitu : membiarkan, menjadi, mengulurkan lidah, meninggalkan agama dan harta peniggalan. 

Tirkah juga bisa diartikan segala sesuatu peninggalan yang dipersiapkan orang tua (ibu bapak) sebagai pewaris pada waktu masih hidupnya untuk para ahli waris, baik berupa harta benda, hak-hak kebendaan atau hak-hak non benda.

Dengan demikian segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris (orang yang mati), menurut jumhur Fuqaha dikatakan (disebut) ”tirkah atau tarikah”. 

Sumber https://play.google.com/store/apps/details?id=com.pustakadata.ebookhukumislam

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.