Macam-macam Wali Dalam Hukum Perkawinan Islam

Keberadaan seorang wali dalam akad nikah adalah suatu yang mesti dan tidak sah akad perkawinan yang tidak dilakukan oleh wali. Wali itu ditempatkan sebagai rukun dalam perkawinan menurut kesepakatan ulama secara prinsip.

Dalam akad perkawinan itu sendiri wali dapat berkedudukan sebagai orang yang bertindak atas nama mempelai perempuan dan dapat pula sebagai orang yang diminta persetujuannya untuk kelangsungan perkawinan tersebut.  

Ada beberapa macam wali yang dikelompokan berdasarkan kedudukannya

Wali Mujbir

Wali Mujbir yaitu wali yang bisa / boleh memaksa anak gadisnya dibawah perwaliannya untuk dikawinkan dengan laki-laki tanpa izin yang bersangkutan. Yang berhak menjadi wali Mujbir yaitu ayah dan kakek.

Syarat-syarat yang boleh dikawinkan oleh wali Mujbir,  yaitu :

  1. Laki-laki pilihan wali harus sekufu (seimbang) dengan gadis yang dikawinkan
  2. Antara wali Mujbir dan gadis tidak ada permusuhan
  3. Antara gadis dan laki-laki calon suami tidak ada permusuhan 
  4. Calon suami harus sanggup membayar maskawin dengan tunai
  5. Calon suami pilihan wali harus sanggup memenuhi kewajibannya terhadap isteri lahir bathin.

Wali Ghairu Mujbir

Wali Ghairu Mujbir yaitu wali yang tidak boleh memaksa kepada gadis yang akan dikawinkan. Adapun orang-orang yang berhak menjadi wali yaitu

1. Wali nasab yaitu wali yang ada hubungan darah dengan perempuan yang akan dinikahkan. Adapun urutan wali nasab adalah sebagai berikut :

  1. Ayah Kandung
  2. Kakek dari ayah
  3. Saudara laki-laki seayah dan seibu (sekandung)
  4. Saudara laki-laki seayah
  5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu dan seayah
  6. Anak laki-laki dari saudara seayah
  7. Paman (saudara laki-laki bapak) sekandung
  8. Paman (saudara laki-laki bapak) sebapak
  9. Anak laki-laki dari paman (dari bapak) sekandung
  10. Anak laki-laki dari paman (dari bapak) sebapak
  11. Hakim

Menurut Imam Syafi’i, urutan tersebut diatas adalah harus yang berarti, penunjukan wali berdasarkan urutannya, jika wali nomor satu tidak ada, maka wali nomor dua menjadi wali yang lebih dekat dan jika wali nomor dua tidak ada digantikan oleh wali nomor tiga. Demikian seterusnya kebawah.

2. Wali Sultan (Hakim) adalah kepala Negara yang beragama Islam.

Di Indonesia sendiri dalam hal ini diwakilkan kepada Kepala Pengadilan Agama lalu ia dapat mengangkat orang lain menjadi hakim seperti Kepala KUA kecamatan untuk mengakadkan nikah perempuan yang berwali hakim.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.