Supaya seseorang dapat menyatakan kehendaknya, maka ia harus berakal sehat. Syarat ini logis dan harus disertakan, sebab jika tidak, akan sulit diketahui apakah seseorang benar-benar ingin mewariskan harta bendanya atau tidak. Disini yang sulit mencari ukuran “berakal sehat” itu. Menjadi pertanyaan, apakah seseorang yang sangat mencintai orang lain ( jatuh cinta ), kemudian mewasiatkan harta bendanya kepada orang yang dicintainya itu, dapat dikatakan berakal sehat. Dalam hal ini yang menjadi pedoman umum adalah sepanjang tidak terbukti sebaliknya, seseorang harus dianggap sehat (A. Rachmad Budiono, 1999:174).

Tentang penerima wasiat dapat diketahui dari ketentuan Pasal 171 butir f  dan Pasal 194 ayat (1) kKompalasi Hukum Islam, yaitu orang lain atau lembaga. Hal mana diketahui dari kata-kata “kepada orang lain atau lembaga”. Diketahui pula dari ketentuan dalam Pasal 196 Kompilasi Hukum Islam dari kata-kata “siapa atau siapa-siapa atau lembaga apa yang ditunjuk akan menerima harta benda yang diwasiatkan”.

Pada prinsipnya siapa saja dapat menjadi penerima wasiat, kecuali pewasiat sendiri dan orang-orang yang secara tegas dikecualikan sebagai penerima wasiat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 195 ayat (3), Pasal 207, dan Pasal 208 Kompilasi Hukum Islam, yaitu:

  1. ahli waris, kecuali untuk hal ini mendapat persetujuan atau disetujui oleh semua ahli waris;
  2. orang yang melakukan pelayanan perawatan bagi seseorang dan kepada orang yang memberi tuntutan kerohanian sewaktu ia menderita sakit hingga meninggalnya, kecuali untuk hal ini ditentukan dengan tegas dan jelas untuk membalas jasa;

Notaris dan saksi-saksi pembuat akta wasiat yang bersangkutan.

[ad#adc-1]

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *