Apabila anak luar kawin di akui oleh ayahnya, maka memperoleh status anak sah. menurut hukum perdata Belanda sebagaimana tersebut dalam pasal 214 N-BW, pengesahan itu dapat terjadi karena (1) pernikahan ibu dan bapak dari anak tersebut; (2) pengangkatan oleh suami ibunya dalam jangka waktu perkawinan mereka; (3) pengakuan oleh suami ibunya setelah perkawinan putus karena kematian ibunya. Kemudian dalam Pasal 214 N-BW juga disebutkan bahwa pengesahan dapat terjadi karena ” surat pengesahan”. Permohonan surat pengesahan dapat diajukan kepada raja yang memutuskan setelah mendengar pertimbangan Hoge Raad. Tetapi ada kemungkinan pengesahan itu terbatas kepada (1) jika setelah pengakuan, perkawinan yang direncanakan itu terhalang karena kematian salah satu pihak, hal ini merupakan pengecualian dari pasal 214 N-BW di atas, ada pengakuan tetapi tidak ada perkawinan; (2) jika pria yang sudah mengetahui kehamilan wanita itu dan bermaksud mengawininya tetapi meninggal sebelum kelahiran anak tidak sah itu tanpa mengakuinya. Dalam hal ini tidak ada pengakuan dan tidak ada perkawinan. Ketentuan pasal ini bertujuan untuk menawarkan pemecahan masalah karena kematian yang mendadak, sehingga menghalangi maksud pria itu mengawini wanita hamil tersebut dan karenanya anak yang dikandungnya itu menjadi anak sah pada saat lahirnya.

Dalam hukum adat sulit ditarik garis pemisah antara anak yang diakui dengan anak yang disahkan, tergantung bagaimana masyarakat disekelilingnya menilai, karena hukum adat memang luwes sifatnya. Di daerah yang pengaruh agama Islamnya kuat maka pengakuan, pengesahan dan pengangkatan anak diluar nikah menjadikan sebagai anak kandung sendiri boleh dikatakan sangat kecil terjadi dalam kehidupan masyarakat. Tetapi di daerah  yang susunan keluarganya masih kuat, pengakuan dan pengangkatan anak masih dilakukan bagi yang memerlukannya. Hanya saja tata cara pengakuan dan pengangkatan yang berbeda di satu daerah dengan daerah yang lain. Di daerah Pamona (Poso) bila seorang pria berhubungan dengan seorang wanita tanpa kawin, kemudian lahir anak, ia dapat membeli anak tersebut untuk menjadi anak yang sah dan menjadi tanggungannya. Akan tetapi, di daerah Pasimasanggu tidak mengenal anak yang disahkan, yang ada hanya diakui oleh ayahnya bila wanita yang hamil dan melahirkan anak di luar nikah.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *