Menurut Anwar al Amrusy bahwa seseorang yang menikah dengan sorang wanita hamil dan secara diam-diam orang laki-laki tersebut mengakui sebagai orang yang menghamili wanita tersebut, maka perbuatan yang demikian itu merupakan hak yang menunjukkan wanita sekaligus kepada anak yang dilahirkannya. Dengan demikian, anak yang dilahirkan nya kurang dari enam bulan lamanya sejak ia menikah secara resmi. Tentang hal ini sudah menjadi ketentuan hukum yang bulat tentang masalah nashab ini, sehingga apabila terjadi hal sebagaimana yang telah diuraikan itu tentu saja dapat dibenarkan. Lagi pula ha-hal yang menyangkut tentang nasab ini tidak dapat diketahui secara menyeluruh dan secara terbuka serta selalu disaksikan oleh masyarakat umum.

Tentang masalah adanya ketunggalan hukum yang bulat sebagaimana tersebut diatas, dapat dipahami bahwa dalam masalah nasab itu adal hal yang berlawanan dalam suatu peristiwa yang terjadi dalam suatu kehamilan. Pada suatu sisi terdapat ketentuan yang menyatakan minimal enam bulan lamanya masa kehamilan sehingga anak yang dilahirkan itu tidak sah, disisi anak yang lahir itu dianggap sah karena secara diam-diam ada laki-laki yang mengku dialah yang menghamili wanita tersebut. Oleh karena itu laki-laki tersebut sudah menikah secara sah, maka dengan sendirinya anak yang dilahirkan itu adalah anak yang sah.

Dalam hal ini sebagaimana para ahli hukum Islam sependapat denga apa yang telah dikemukakan pleh Anwar al Amrusy yang mengatakan bahwa tidak ada ketunggalan hukum dalam soal nasab, sebab hukum Islam sangat memerhatikan kemaslahatan dan perlindungan terhadap anak yang lahir secara sah, demikian juga terhadap anak tersebut tidak berdosa, yang berdosa adalah kedua orang tuanya. Pendapat ini dapat diapahami karena alur pikir dalam masalah nasab yang tersebut dalam kitab-kitab fiqih adalah apa yang terbukti dan apa yang terlihat secara fisik saja, tidak dalam hal-hal tersembunyi pada diri sendiri.

Anak sah mem[unyai kedudukan tertentu terhadap keluarganya, orang tua berkewajiban untuk memberikan nafkah hidup, pendidikan yang cukup, memelihara kehidupan anak tersebut sampai ia dewasa atau sampai ia dapat berdiri sendiri mencari nafkah. Anak yang sah merupakan tumpuan harapan orang tuanya sekaligus menjadi penerus keturunannya.

About The Author

Comments

  1. Loli IAIN SU

    assalmualaikum, bu saya ingin bertanya, apakah anak yang lhir diluar pernikahan, kemudian perempuan dan laki-laki tersebut menikah, bgaimanakah keadaan anak tersebut dalam hal perwalian ketika ia hendak menikh ? dan bagaimana dengan anaknya, apakah boleh menajadi wali ? saya mohon jawab beserta dalilnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *