Dalam hukum Islam, melakukan hubungan seksual antara pria dan wanita tanpa ikatan perkawinan yang sah di sebut Zina. Hubungan seksual tersebut tidak dibedakan apakah pelakunya gadis, bersuami atau janda, jejaka, beristri atau duda sebagaimana yang berlaku pada hukum perdata. Ada dua macam istilah yang digunakan bagi Zina, yaitu (1) Zina muhson, yaitu Zina yang dilakukan oleh orang yang telah atau pernah menikah, (2) Zina ghairu muhson, yaitu Zina yang di lakukan oleh orang yang belum pernah menikah, merka berstatus perjaka/perawan. Hukum Islam tidak menganggap bahwa Zina ghairu muhson yang dilakukan oleh bujang/perawan itu sebagai perbuatan biasa, melainkan tetap dianggap sebagai perbuatan Zina yang harus di kenakan hukuman. Hanya saja hukuman itu kuantitasnya berbeda, bagi pezina muhson dirajam sampai mati sedangkan yang ghairu muhson dicambuk 100 kali. Anak yang di lahirkan sebagai akibat zina ghairu muhson disebut anak diluar perkawinan.

Di samping hal tersebut di atas, hukum Islam juga menetapkan anak di luar kawin adalah (1) anak mula’anah, yaitu anak yang di lahirkan dari seorang wanita yang di li’an oleh suaminya. Kedudukan anak mula’anah ini hukumnya sama saja dengan anak Zina, ia tidak mengikuti nasab suami ibunya yang me-li’an, tetapi mengikuti nasab ibunya yang melahirkannya, ketentuan ini berlaku juga untuk kewarisan, perkawinan dan lain-lain, (2) anak syubhat, kedudukannya tidak ada hubungan nasab kepada laki-laki yang menggauli ibunya, kecuali kalau laki-laki itu mengakuinya. Dalam kitab al-ahwal al syakhshiyyah karangan Muhyidin sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Jawad Mughniyah ditemukan bahwa nasab tidak dapat ditetapkan dengan syubhat macam apa pun, kecuali orang yang melakukan syubhat itu mengakuinya, karena ia sebenarnya lebih mengetahui tentang dirinya. Tentang hal yang terakhir ini disepakati oleh para ahli hukum dikalangn sunny dan syiah.

Hukum Islam membedakan Syubhat kepada dua bentuk, yaitu (1) anak Syubhat yang dilahirkan dari syubhat perbuatan adalah hubungan seksual yang dilakukan karena suatu kesalahan, misalnya salah kamar, suami menyangka yang sedang tidur dikamar A adalah istrinya, ternyata adalah iparnya atau wanita lain. Demikian pula istrinya menyangka yang datang ke kamarnya adalah suaminya, kemudian terjadilah hubungan seksual dan menyebabkan hamil serta melahirkan anak di luar nikah, (2) anak syubhat yang dilahirkan dari suatu akad, misalnya seorang laki-laki menikahi seorang wanita, kemudian diketahui bahwa wanita yang dinikahi itu adalah adik kandungnya sendiri atau saudara sepersusuan yang haram dinikahi. Jika melahirkan anak dari dua syubhat ini, maka anak tersebut dapat dihubungkan nasabnya kepada bapak Syubhat-nya atas pengakuan-nya.

Dalam Syubhat adat setelah di ketahui adnya kekeliruan itu, maka istrinya haruslah di ceraikan, akrena perkawinan dengan adik kandung atau saudara sepersusuan adalah haram dinikahi dalam hukum Islam. Oleh karena masalah syubhat ini sesuatu yang diragukan keadaannya (ada kesamaran antara hak dan bathil), maka perlu Syubhat ini tidak di kenakan sanksi had apabila syubhat betul-betul terjadi dengan tidak dengan sengaja, sama sekali tidak direkayasa.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *