Sumber Hukum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

Undang-Undang Perkawinan yang berlaku secara positif sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang dengan sendirinya menjadi sumber bagi Undang-Undang Perkawinan adalah sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan Undang-Undang tersebut, yaitu:

  1. Hukum Agama, dalam hal ini adalah Hukum Perkawinan Islam atau fiqh, yang berlaku bagi orang Indonesia asli yang beragama Islam dan warga timur asing yang beragama Islam.
  2. Hukum Adat, yang berlaku bagi orang Indonesia asli yang tidak beragama Islam atau Kristen berlaku Hukum Adat masing-masing lingkaran adat dan bagi orang timur asing lainnya berlaku Hukum Adatnya.
  3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, berlaku untuk orang Timur Asing Cina, Orang Eropa, dan warga negara Indonesia keturunan Eropa.Huwelijksordonantie Christen Indonesia, yang berlaku bagi orang Indonesia asli yang beragama Kristen.

Read More

Sumber Hukum Perkawinan Dalam Islam (3)

Ijtihad

Meskipun Al-Qur’an dan Sunnah Rasul memberikan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan secara terperinci, tetapi dalam beberapa masalah pemahaman tentang masalah-masalah itu seringkali memerlukan adanya pemikiran para fuqaha. Disamping itu, didalam hal-hal yang tidak terdapat ketentuannya secara jelas dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul diperlukan adanya Ijtihad untuk memperoleh ketentuan hukumnya.

Misalnya, Ijtihad sahabat Ali tentang masa ‘iddah perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya. Menurut beliau, ketentuan habis masa ‘iddah perempuan hamil dengan melahirkan kandungan itu adalah bagi perempuan yang ditalak, bukan untuk perempuan yang ditinggal mati suaminya. Al-Qur’an menentukan masa ‘iddah perempuan yang ditinggal mati suaminya selama 4 bulan 10 hari. Dengan demikian sahabat Ali berpendapat bahwa masa ‘iddah perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya adalah mana yang lebih panjang antara melahirkan dan 4 bulan 10 hari. Apabila anak lahir sebelum mencukupi waktu 4 bulan 10 hari dari kematian suami, maka masa ‘iddahnya adalah 4 bulan 10 hari; apabila setelah cukup 4 bulan 10 hari anak masih belum lahir juga maka masa ‘iddahnya sampai melahirkan.

Pendapat sahabat Ali itu tidak disetujui sahabat Umar, beliau berpendapat bahwa masa ‘iddahnya telah habis apabila perempuan telah melahirkan, meskipun belum cukup 4 bulan 10 hari.

Hal yang tidak disinggung dalam Al-Qur’an atau Sunnah Rasul, tetapi memerlukan ketentuan hukum dengan ijtihad misalnya mengenai harta bersama yang diperoleh selama perkawinan berlangsung, perkawinan wanita hamil karena zina, akibat pembatalan pertunangan terhadap hadiah-hadiah pertunangan dan sebagainya.

Read More

Sumber Hukum Perkawinan Dalam Islam (2)

Sunnah Rasul

Meskipun Al-Qur’an telah memberikan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan dengan amat terperinci sebagaimana disebutkan diatas, tetapi masih diperlukan adanya penjelasan-penjelasan Sunnah Rasul, baik mengenai hal-hal yang tidak disinggung maupun mengenai hal-hal yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dengan secara garis besar.

Beberapa contoh Sunnah Rasul mengenai hal-hal yang disinggung dalam Al-Qur’an dapat disebutkan antara lain sebagai berikut :

  1. Hal-hal yang berhubungan dengan walimah
  2. Tata cara peminangan
  3. Saksi dan wali dalam akad nikah
  4. Hak mengasuh anak apabila terjadi perceraian.
  5. Syarat yang disertakan dalam akad nikah.

Beberapa contoh penjelasan Sunnah Rasul tentang hal-hal yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara garis besar antara lain sebagai berikut:

  1. Pengertian “Quru” yang disebutkan dalam Al-Qur’an mengenai masa ‘iddah perempuan yang ditalak suaminya.
  2. Bilangan susuan yang mengakibatkan hubungan mahram.
  3. Besar kecil mahar (maskawin).
  4. Izin keluar rumah bagi perempuan yang mengalami masa ‘iddah talak raj’i.
  5. Perceraian yang terjadi karena li’an merupakan talak yang tidak memungkinkan bekas suami isteri kembali nikah lagi.
Read More

Sumber Hukum Perkawinan Dalam Islam (1)

Al-Qur’an

Ayat-ayat Al-Qur’an yang mengatur masalah perkawinan dapat disebutkan mulai adanya penegasan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup berjodoh-jodoh atau berpasang-pasangan, baik dalam dunia manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan, untuk memungkinkan terjadinya perkembangbiakan, guna melangsungkan kehidupan jenis masing-masing.

Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang perkawinan adalah sebagai berikut:

  1. Ayat 49 Surah Adz-Dzariyat menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah berpasang-pasangan.
  2. Ayat 36 Surah Yasin mengajarkan juga bahwa segala sesuatu diciptakan Allah berpasang-pasangan, baik dalam dunia tumbuh-tumbuhan, manusia dan lain-lainnya yang tidak diketahui manusia.
  3. Ayat 13 Surah Al-Hujurat menegaskan bahwa umat manusia diciptakan Allah berasal dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain.
  4. Ayat 1 Surah An-Nisa’ mengajarkan bahwa manusia diciptakan dari seorang diri (Adam) dan daripadanya diciptakan istrinya, dan dari mereka berdua Allah mengembang biakkan manusia laki-laki dan perempuan.
  5. Ayat 72 Surah An-Nahl menyatakan bahwa Allah menjadikan istri-istri umat manusia dari jenis manusia sendiri, dan dari istri-istri itu dijadikan-Nya pula anak-anak dan cucu-cucu.

Dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dapat ditarik suatu pengertian bahwa perkawinan adalah tuntutan kodrat hidup yang tujuannya antara lain adalah untuk memperoleh keturunan, guna melangsungkan kehidupan jenis.

  1. Ayat 21 Surah Ar-Rum mengajarkan bahwa diantara tanda-tanda keagungan dan kekuasaan Allah adalah diciptakan-Nya istri-istri bagi kaum laki-laki dari jenis manusia yang sama, guna menyelenggarakan kehidupan damai dan tenteram serta menimbulkan rasa kasih sayang antara suami istri khususnya dan umat manusia umumnya.
  2. Ayat 32 Surah An-Nur memerintahkan agar kepada laki-laki maupun perempuan yang belum kawin (dalam keadaan tidak kawin), padahal sudah pantas, diusahakan untuk kawin dengan diberi bantuan seperlunya. Allah berjanji akan memberikan anugerah-Nya kepada mereka yang mau melaksanakan perkawinan, tetapi dalam keadaan kekurangan, akan dicukupkan kebutuhan hidupnya. Ayat berikutnya (33), memperingatkan agar mereka yang benar-benar belum mampu melakasanakan perkawinan, dapat memelihara kesucian hidupnya, jangan mudah tergoda bujukan-bujukan setan yang menarik-narik berbuat serong (zina).

Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kedamaian dan ketentraman hidup serta menumbuhkan rasa kasih sayang antara suami isteri bersangkutan khususnya, demikian pula dikalangan keluarga yang lebih luas bahkan juga dalam kehidupan manusia umumnya.

Read More