Pengakuan Anak Terhadap Anak Temuan (bag 4)

Di samping itu, dengan adanya pengakuan anak itu, maka lahirnya hak memusakai dengan jalan mewaris. Khususnya dalam hal pengakuan anak untuk orang lain, sedangkan orang yang diakui itu tidak membenarkan pengakuan itu dan tidak ada bukti-bukti yang mendukung adanya pertalian nasab, maka yang mengakui mendukung resiko dengan timbulnya hak antara yang diakui dan yang mengakui, tidak sebaliknya. Menurut mazhab Hanafi bahwa orang yang diakui itu memperoleh setelah maulal muwalah. Oleh karena itu, apabila yang mengakui mempunyai ahli waris, termasuk dwawil arham, maka yang dilakukan tidak berhak mewaris, tetapi jika ahli waris suami atau istri, maka ia berhak atas sisanya karena Road kepada suami atau istri dan ini harus diakhirkan. Berbeda dengan mazhab Syafi’i bahwa hak memusakai itu bukan hak sebagai pewaris, meskipun dalam beberapa hal dianggap sebagai pewaris, misalnya penerima wasiat. Alasan mazhab Syafi’i bahwa kewarisan itu haruslah didasrkan kepada pertalian nasab yang sah.

Menurut hukum perdata sebagaimana disebutkan dalam Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum perdata bahwa akibat dari pengakuan anak adalah terjadinya hubungan keperdataan antara (more…)

Read More

Pengakuan Anak Dalam Hukum Perdata (bag 3)

Kompilasi Hukum Islam di Indonesia juga tidak menjelaskan tentang pengakuan anak secara rinci dan lengkap. Senada lengkap dengan yang tersebut dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ditegaskan dalam beberapa pasal tentang kedudukan tentang anak di luar nikah. dalam Pasal 100 disebutkan bahwa anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai ibunya dan keluarga ibunya. Selanjutnya dalam Pasal 101 dijelaskan bahwa seorang suami yang mengingkari sahnya anak sedangkan istri tidak menyangkalnya dapat menangguhkan pengingkarannya dengan li’an. Kemudian  dalam pasal 102 Ayat (1) dikemukakan bahwa suami yang mengingkari seorang anak yang lahir dari istrinya dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama dalam jangka waktu 180 hari sesudah hari akhirnya atau 360 hari sesudah putusnya perkawinan atau setelah suami itu mengetahui  bahwa istrinya melahirkan anak dan berada di tempat yang memungkinkan dia mengajukan perkaranya kepada Pengadilan Agama, dalam Ayat (2) ditetapkan bahwa pengingkaran yang diajukan sesudah lampau waktu tersebut tidak dapat diterima.

[ad#adc-1]

Read More

Pengakuan Anak Dalam Hukum Perdata (bag 2)

Menurut hukum perdata sebagaimana tersebut dalam Pasal 224 Ayat (1) N-BW pengakuan terhadap anak tidak sah adalah batal jika dilakukan (1) oleh pria yang dilarang kawin dengan ibunya anak; (2) oleh suami yang telah melangsungkan perkawinan lebih dari 306 hari sebelum kelahiran anak; (3) oleh pria yang belum berumur 18 tahun, kecuali pengakuan itu terjadi pada hari upacara perkawinan; (4) tanpa persetujuan lebih dulu dari ibu anak itu selama kehidupannya; (5) tanpa persetujuan tertulis lebih dulu dari anak itu jika ia sudah dewasa. Selain dari itu, pengakuan juga dilarang karena ada pertalian darah yang sangat dekat (incest) atau karena hubungan semenda. Pria ini tidak boleh mengakui anak di luar kawin itu, jika dilakukan juga maka pengakuan itu batal,akibatnya anak tersebut dalam keadaan yang tidak (more…)

Read More

Pengakuan Anak Dalam Hukum Perdata (bag.1)

Lembaga pengakuan anak dalam hukum perdata diatur dalam Pasal 272 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dimana dikemukakan bahwa anak diluar kawin (natuurlijk kind), kecuali yang dilahirkan dari perzinahan atau penodaan darah, tiap-tiap anak yang lahir diluar perkawinan apabila bapak dan ibunya melaksanakan perkawinan, maka anak tersebut menjadi anak sah jika bapak sebelum melaksanakan perkawinan, mengakuinya menurut undang-undang, atau pengakuan itu dilakukan dalam akta tersendiri. Kemudian dalam Pasal 280 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dinyatakan bahwa dengan adanya pengakuan anak diluar kawin sebagaimana tersebut diatas, maka timbullah hubungan perdata antara anak luar kawin itu dengan bapak dan ibunya sebagai anak yang sah lainnya.

Untuk memperoleh status hubungan antara ayah, ibu dan anak yang lahir diluar nikah, maka anak tersebut harus diakui oleh ayah dan ibunya. Pengakuan itu harus diakui dengan akta yang (more…)

Read More