Tag Archives: Ijtihad

Ijtihad Dalam Hukum Perkawinan Islam

Meskipun Al-Qur’an dan Sunnah Rasul memberikan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan secara terperinci, tetapi dalam beberapa masalah pemahaman tentang masalah-masalah itu seringkali memerlukan adanya pemikiran para fuqaha. Disamping itu, didalam hal-hal yang tidak terdapat ketentuannya secara jelas dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul diperlukan adanya Ijtihad untuk memperoleh ketentuan hukumnya.

Misalnya, Ijtihad sahabat Ali tentang masa ‘iddah perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya. Menurut beliau, ketentuan habis masa ‘iddah perempuan hamil dengan melahirkan kandungan itu adalah bagi perempuan yang ditalak, bukan untuk perempuan yang ditinggal mati suaminya. Al-Qur’an menentukan masa ‘iddah perempuan yang ditinggal mati suaminya selama 4 bulan 10 hari. Dengan demikian sahabat Ali berpendapat bahwa masa ‘iddah perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya adalah mana yang lebih panjang antara melahirkan dan 4 bulan 10 hari. Apabila anak lahir sebelum mencukupi waktu 4 bulan 10 hari dari kematian suami, maka masa ‘iddahnya adalah 4 bulan 10 hari; apabila setelah cukup 4 bulan 10 hari anak masih belum lahir juga maka masa ‘iddahnya sampai melahirkan.

Pendapat sahabat Ali itu tidak disetujui sahabat Umar, beliau berpendapat bahwa masa ‘iddahnya telah habis apabila perempuan telah melahirkan, meskipun belum cukup 4 bulan 10 hari.

Hal yang tidak disinggung dalam Al-Qur’an atau Sunnah Rasul, tetapi memerlukan ketentuan hukum dengan ijtihad misalnya mengenai harta bersama yang diperoleh selama perkawinan berlangsung, perkawinan wanita hamil karena zina, akibat pembatalan pertunangan terhadap hadiah-hadiah pertunangan dan sebagainya.

Sumber Hukum Perkawinan Dalam Islam (3)

Ijtihad

Meskipun Al-Qur’an dan Sunnah Rasul memberikan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan secara terperinci, tetapi dalam beberapa masalah pemahaman tentang masalah-masalah itu seringkali memerlukan adanya pemikiran para fuqaha. Disamping itu, didalam hal-hal yang tidak terdapat ketentuannya secara jelas dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul diperlukan adanya Ijtihad untuk memperoleh ketentuan hukumnya.

Misalnya, Ijtihad sahabat Ali tentang masa ‘iddah perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya. Menurut beliau, ketentuan habis masa ‘iddah perempuan hamil dengan melahirkan kandungan itu adalah bagi perempuan yang ditalak, bukan untuk perempuan yang ditinggal mati suaminya. Al-Qur’an menentukan masa ‘iddah perempuan yang ditinggal mati suaminya selama 4 bulan 10 hari. Dengan demikian sahabat Ali berpendapat bahwa masa ‘iddah perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya adalah mana yang lebih panjang antara melahirkan dan 4 bulan 10 hari. Apabila anak lahir sebelum mencukupi waktu 4 bulan 10 hari dari kematian suami, maka masa ‘iddahnya adalah 4 bulan 10 hari; apabila setelah cukup 4 bulan 10 hari anak masih belum lahir juga maka masa ‘iddahnya sampai melahirkan.

Pendapat sahabat Ali itu tidak disetujui sahabat Umar, beliau berpendapat bahwa masa ‘iddahnya telah habis apabila perempuan telah melahirkan, meskipun belum cukup 4 bulan 10 hari.

Hal yang tidak disinggung dalam Al-Qur’an atau Sunnah Rasul, tetapi memerlukan ketentuan hukum dengan ijtihad misalnya mengenai harta bersama yang diperoleh selama perkawinan berlangsung, perkawinan wanita hamil karena zina, akibat pembatalan pertunangan terhadap hadiah-hadiah pertunangan dan sebagainya.