Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Perkawinan (2)

  1. Ayat 232 Surah Al-Baqarah mengajarkan para wali jangan menghalangi janda yang diceraikan suaminya untuk kawin lagi setelah masa ‘iddahnya habis (baik kembali kawin dengan bekas suami atau kawin dengan laki-laki lain).
  2. Ayat 226 dan 227 Surah al-Baqarah menentukan bahwa laki-laki yang bersumpah tidak akan mengumpuli isterinya (sumpah ila’) diberi tangguh waktu empat bulan, apakah ia bermaksud menceraikan isterinya ataukah tidak.
  3. Ayat 228 Surah Al-Baqarah menetukan masa ‘iddah perempuan yang di talak suaminya adalah tiga quru’ (tiga kali suci), dan selama masih dalam masa ‘iddahnya suami berhak merujuknya, apabila mereka memang hidup bersuami isteri kembali dengan sebaik-baiknya.
  4. Surah Ath-Thalaq menentukan masa ‘iddah perempuan yang ditalak suaminya adalah tiga bulan, apabila ia sudah tidak mungkin lagi mengalami menstruasi atau sama sekali tidak pernah mengalaminya. Sedang bagi perempuan yang ditalak dalam keadaan hamil masa ‘iddahnya ialah sampai melahirkan kandungannya.
  5. Ayat 49 Surah Al-Ahzab menentukan bahwa isteri yang di talak suaminya sebelum dicampuri tidak mempunyai masa ‘iddah dan kepadanya supaya diberikan mut’ah (sekedar harta yang dapat menyenangkan hatinya).
  6. Ayat 236 dan 237 Surah Al-Baqarah menentukan bahwa isteri yang ditalak sebelum dicampuri sama sekali, apabila sebelumnya tidak ditentukan berapa mahar yang akan diberikan kepadanya, maka ia berhak atas mut’ah, apabila sudah pernah ditentukan berapa besar mahar yang akan diberikan, maka ia berhak atas separohnya.
  7. Ayat 234 Surah Al-Baqarah menentukan bahwa masa ‘iddah isteri yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari (baik sudah atau belum pernah dikumpuli almarhum suaminya).
  8. Ayat 2 Surah Ath-Thalaq menentukan bahwa merujuk isteri yang ditalak (demikian pula pada waktu menjatuhkan talak) hendaklah dipersaksikan kepada dua orang saksi laki-laki yang adil.
  9. Ayat 6 Surah Ath-Thalaq menentukan bahwa perempuan yang ditalak suaminya selama dalam masa ‘iddah berhak mendapat tempat tinggal serumah dengan bekas suaminya; apabila perempuan itu dalam keadaan hamil, berhak atas tempat tinggal dan nafkah sampai melahirkan kandungannya; setelah melahirkan ia berhak atas biaya-biaya menyusui anak yang diperlukan untuk dapat terselenggaranya susuan yang baik.
  10. Ayat 7 Surah Ath-Thalaq memerintahkan agar bekas suami memberi nafkah kepada bekas isteri yang ditalak (demikian pula kepada anak-anaknya yang masih kecil) sesuai kemampuannya.
  11. Ayat 1 Surah Ath-Thalaq menentukan bahwa perempuan yang ditalak raj’i ( yang masih dapat dirujuk tanpa nikah baru), selama menjalankan masa ‘iddah hendaknya tetap berdiam dirumah bekas suaminya, suami jangan menyuruh pergi dan jangan pula mengizinkan pergi, kecuali apabila ia menyeleweng. Ketentuan tersebut diadakan dengan maksud agar suami masih berhasrat untuk merujuknya kembali.
  12. Ayat 233 Surah Al-Baqarah memerintahkan agar ibu-ibu yang ditalak suaminya menyusui anaknya selama dua tahun, jika memang dikehendaki untuk menyempurnakan susuan,  ayah anak (bekas suami) berkewajiban memberi nafkah dan pakaian yang pantas kepada bekas isteri yang menyusui itu.
  13. Ayat 4 Surah An-Nisa’ mewajibkan laki-laki memberikan mas kawin yang menjadi hak isterinya. Suami hanya berhak ikut makan mas kawin yang diberikan kepada isterinya apabila diizinkan/direlakan.
  14. Ayat 228 Surah Al-Baqarah menentukan bahwa para isteri mempunyai hak dalam hidup perkawinan seimbang dengan kewajiban-kewajibannya, meskipun diakui bahwa suami mempunyai kelebihan-kelebihan atas isteri, karena amat besar tanggung jawabnya dalam hidup berumah tangga.
  15. Ayat 128 Surah An-Nisa’ menentukan bahwa apabila isteri merasa khawatir atas suaminya akan nusyuz (bersikap keras dan tidak mau menggauli dengan baik serta tidak memmberikan hak-hak isterinya) atau sikap acuh tak acuh dari suaminya, maka tidak ada halangannya apabila suami isteri mengadakan persetujuan damai, yaitu isteri melepaskan sebagian hak-haknya, tetapi suami mau menggauli isterinya dengan sebaik-baiknya.
  16. Ayat 2-4 Surah Al-Mujadillah mengatur hukum dzihar, yaitu suami menyamakan isteri dengan punggung ibu sendiri.
  17. Ayat 6-9 Surah An-Nur mengatur hukum sumpah li’an yang dilakukan suami dan isteri, oleh karena suami menuduh isteri berbuat zina.
  18. Ayat 20 Surah An-Nisa’ melarang suami yang menceraikan isterinya mengambil kembali pemberian-pemberian yang telah diserahkan kepada isterinya, betapapun besar jumlah pemberian itu.
Read More

Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Perkawinan (1)

  1. Ayat 235 Surah Al-Baqarah memperingatkan agar laki-laki jangan meminang secara terang-terangan perempuan yang sedang menjalani masa ‘iddah (masa tunggu untuk memungkinkan kawin lagi dengan orang lain), yang dapat dipahamkan bahwa meminang sebelum terjadi perkawinan adalah suatu hal yang diajarkan dalam Islam.
  2. Ayat 22 Surah An-Nisa’ melarang laki-laki kawin dengan janda ayah kandungnya.
  3. Ayat 23 Surah An-Nisa’ menyebutkan macam-macam perempuan yang haram dikawini laki-laki karena hubungan darah (nasab), susuan, dan semenda; ayat berikutnya (24) melarang laki-laki mengawini perempuan yang dalam ikatan perkawinan dengan laki-laki lain.
  4. Ayat 3 Surah An-Nur mengajarkan bahwa tidak pantas laki-laki mukmin kawin dengan perempuan pezina, demikian pula sebaliknya, perempuan mukminah kawin dengan laki-laki pezina.
  5. Ayat 221 Surah Al-Baqarah melarang laki-laki mukmin mengawini perempuan musyrikah, demikian pula sebaliknya, perempuan mukminah dikawinkan dengan laki-laki musyrik.
  6. Ayat 5 Surah Al-Maidah membolehkan perkawinan antara laki-laki muslim dengan perempuan ahli kitab (Yahudi atau Nasrani).
  7. Ayat 10 Surah Al-Mumtahanah mengajarkan bahwa perempuan muslimah tidak halal kawin dengan laki-laki kafir (nonmuslim).
  8. Ayat 3 Surah An-Nisa’ memberikan kemungkinan laki-laki berpoligami sampai sebanyak-banyaknya empat orang isteri, dengan syarat akan dapat berlaku adil; apabila dikhawatirkan tidak akan dapat berlaku adil, hendaklah kawin dengan seorang isteri saja.
  9. Ayat 34 Surah An-Nisa’ memerintahkan agar laki-laki/suami (demikian pula perempuan/isteri) melakukan pergaulan rumah tangga dengan baik, dan berusaha agar perkawinan mereka kekal, apabila masing-masing menjumpai hal-hal yang kurang disenangi pada salah satu, suami atau isteri, supaya dihadapi dengan penuh kesabaran; siapa tahu justru dalam hal-hal yang tidak disenangi itu Allah akan memberikan kebaikan-kebaikan banyak pada pihak-pihak bersangkutan.
  10. Ayat 34 Surah An-Nisa’ menentukan bahwa suami adalah pemimpin rumah tangga dan berkewajiban mencukupkan kebutuhan hidup keluarganya, sedang kaum isteri supaya menjaga diri dengan sebaik-baiknya sebagai penyelenggara rumah tangga yang takwa kepada Allah. Kaum suami supaya berusaha mengatasi kekhawatiran sikap membangkang dari isteri dengan memberikan nasihat-nasihat yang baik, apabila dengan nasihat tidak berhasil dilakukan dengan berpindah tidur dengan isteri apabila masih belum membawa perbaikan, boleh dengan cara memukul, sekadar untuk memberikan peringatan dan pengajaran tanpa mengandung unsur-unsur penganiayaan sama sekali.
  11. Ayat 187 Surah Al-Baqarah menetukan bahwa hubungan kelamin suami isteri dibenarkan dimalam bulan Ramadhan.
  12. Ayat 222 Surah Al-Baqarah melarang hubungan kelamin suami isteri apabila isteri sedang mengalami menstruasi sampai suci dan setelah bersuci.
  13. Ayat 223 Surah Al-Baqarah memberikan kebebasan kepada suami isteri untuk memilih cara dalam melakukan hubungan kelamin selagi ditempat yang diizinkan Allah.
  14. Ayat 35 Surah An-Nisa’ mengajarkan apabila perselisihan yang terjadi antara suami isteri, mengkhawatirkan akan berakibat keretakan, supaya diusahakan untuk damai kembali dengan perantaraan hakam (wasit) yang terdiri dari keluarga suami atau isteri.
  15. Ayat 1 Surah Ath-Thalaq memerintahkan  (apabila talak sudah tidak dapat dihindarkan lagi) hendaklah talak itu dijatuhkan dalam keadaan isteri mengalami suci dan tidak dicampuri sebelumnya.
  16. Ayat 229 Surah Al-Baqarah mengajarkan bahwa talak masih dapat rujuk, apabila baru dijatuhkan dua kali, suami yang menjatuhkan talak kepada isterinya tidak boleh mengambil kembali sedikitpun mahar yang pernah diberikan kepada isterinya. Apabila talak terjadi atas permintaan isteri dengan pembayaran ‘iwadl (tebusan), maka suami dibenarkan menerima pembayaran ‘iwadl tersebut.
  17. Ayat 230 Surah Al-Baqarah mengajarkan bahwa apabila seorang isteri telah dijatuhi talak sampai tiga kali, ia tidak dapat kawin lagi dengan bekas suaminya, kecuali apabila telah kawin dengan laki-laki laindan akhirnya bercerai (tanpa direncanakan sebelumnya).
  18. Ayat 231 Surah Al-Baqarah mengajarkan apabila isteri yang ditalak suaminya mendekati masa ‘iddahnya, maka suami dapat merujuk kembali dengan ketentuan tanpa akan berakibat kerugian-kerugian kesengsaraan pada pihak isteri.

Read More