Pengakuan Anak Terhadap Anak Temuan (bag 4)

Di samping itu, dengan adanya pengakuan anak itu, maka lahirnya hak memusakai dengan jalan mewaris. Khususnya dalam hal pengakuan anak untuk orang lain, sedangkan orang yang diakui itu tidak membenarkan pengakuan itu dan tidak ada bukti-bukti yang mendukung adanya pertalian nasab, maka yang mengakui mendukung resiko dengan timbulnya hak antara yang diakui dan yang mengakui, tidak sebaliknya. Menurut mazhab Hanafi bahwa orang yang diakui itu memperoleh setelah maulal muwalah. Oleh karena itu, apabila yang mengakui mempunyai ahli waris, termasuk dwawil arham, maka yang dilakukan tidak berhak mewaris, tetapi jika ahli waris suami atau istri, maka ia berhak atas sisanya karena Road kepada suami atau istri dan ini harus diakhirkan. Berbeda dengan mazhab Syafi’i bahwa hak memusakai itu bukan hak sebagai pewaris, meskipun dalam beberapa hal dianggap sebagai pewaris, misalnya penerima wasiat. Alasan mazhab Syafi’i bahwa kewarisan itu haruslah didasrkan kepada pertalian nasab yang sah.

Menurut hukum perdata sebagaimana disebutkan dalam Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum perdata bahwa akibat dari pengakuan anak adalah terjadinya hubungan keperdataan antara (more…)

Read More