Penetapan Asal Usul Anak (bag 2)

Dalam Pasal 281 Kitab Undang-undang Hukum Perdata disebutkan ada cara untuk mengakui anak luar kawin, yaitu (1) di dalam akta kelahiran anak yang bersangkutan; (2) di dalam akta perkawinan ada; (3) di dalam akta autentik. Dalam praktik hukum perdata, cara yang sering dimua adalah pengakuan oleh seorang ayah yang namanya disebutkan dalam akta kelahiran anak yang bersangkutan. Pengakua seperti ini diberikan oleh ayah yang bersangkutan pada waktu melaporkan kelahiran anaknya. Sedangkan cara yang kedua dilaksanakan dengan cara melaksanakan perkawinan sah antara wanita yang hamil itu dengan itu dengan pria yang membuahinya sekaligus mengakui anak luar kawinnya. Yang diakui disini adalah anak luar kawin yang sudah dilahirkan dan pada waktu melaporkan kelahiran belum dibberikan pengakuan oleh ayahnya. Pengakuan seperti ini membawa akibat sebagaimana diatur dalam Pasal 272 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Sedangkan pengakuan cara ketiga adalah pengakuan yang dituangkan dalam akta autentik berupa akta notaris . pengakuan ini ditindak lanjuti dengan melaporkan kepada Kantor Catatan Sipil, dimana kelahiran anak itu dahulu telah didaftarkan dan minta agar (more…)

Read More

Penetapan Asal Usul Anak (bag 1)

Menurut hukum perdata yang berlaku di indonesia, penetapan asal usul anak dapat dilakukan dengan pengakuan secara sukarela dan pengakuan yang dipaksasakan. Pengakuan sukarela adalah pernyataan sebagaimana yang ditentukan dalam hukum perdata bahwa seorang ayah atau ibu atau ibunya mengakui seseorang anak yang lahir dari seorang ibunya itu betul anak hasil dari hubungan biologis mereka dan hubungan itu tidak dalam ikatan perkawinan yang sah, serta bukan karena  hubungan zina dan sumbang. Sedangkan pengakuan yang dilaksanakan adalah pengakuan yang terjadi karena adanya putusan hakim dalam suatu gugatan asal usul seorang anak. Hal ini berkaitan (more…)

Read More

Pengakuan Anak Terhadap Anak Temuan (bag 4)

Di samping itu, dengan adanya pengakuan anak itu, maka lahirnya hak memusakai dengan jalan mewaris. Khususnya dalam hal pengakuan anak untuk orang lain, sedangkan orang yang diakui itu tidak membenarkan pengakuan itu dan tidak ada bukti-bukti yang mendukung adanya pertalian nasab, maka yang mengakui mendukung resiko dengan timbulnya hak antara yang diakui dan yang mengakui, tidak sebaliknya. Menurut mazhab Hanafi bahwa orang yang diakui itu memperoleh setelah maulal muwalah. Oleh karena itu, apabila yang mengakui mempunyai ahli waris, termasuk dwawil arham, maka yang dilakukan tidak berhak mewaris, tetapi jika ahli waris suami atau istri, maka ia berhak atas sisanya karena Road kepada suami atau istri dan ini harus diakhirkan. Berbeda dengan mazhab Syafi’i bahwa hak memusakai itu bukan hak sebagai pewaris, meskipun dalam beberapa hal dianggap sebagai pewaris, misalnya penerima wasiat. Alasan mazhab Syafi’i bahwa kewarisan itu haruslah didasrkan kepada pertalian nasab yang sah.

Menurut hukum perdata sebagaimana disebutkan dalam Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum perdata bahwa akibat dari pengakuan anak adalah terjadinya hubungan keperdataan antara (more…)

Read More

Pengakuan Anak Terhadap Anak Temuan (bag 3)

Menurut Taufiq ada perbedaan yang prinsiple antara pengakuan anak menurut hukum Islam dengan konsep pengangkatan anak dalam hukum perdata Barat. Menurut konsep hukum Islam dan pengangkatan anak itu tidak semata-mata untuk memberikan kedudukan anak diluar nikah sebagai anak kandung, sedangkan menurut konsep hukum perdata Barat pengakuan dan pengangkatan itu semata-mata memebrikan kedudukan anak luar kawin sebagai anak kandung.

Ketentuan-ketentuan hukum Islam mengenai pengakuan anak tersebut dari segi lahir semata bukan dari segi hakikat dan agama (diyani). Sehubungan dengan hal ini, apabila seseorang mengambil anak dari rumah sakit yang tidak diketahui siapa (more…)

Read More

Pengakuan Anak Terhadap Anak Temuan (bag 2)

Orang Islam yang menemukan anak temuan dapat melakukan pengakuan terhadap anak tersebut sebagai anak kandungnya. Apabila pihak yang menemukan anak tersebut telah mengikrarkan pengakuannya, maka sahlah anak tersebut sebagai anaknya sendiri, dan sah pula pertalian nasab anak tersebut dengan orang yang mengakuinya meskipun pengakuan tersebut dilawan oleh orang lain dengan menunjukkan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Menurut Imam Malik, pengakuan tersebut tidak sampai menimbulkan Nasab yang sah, kecuali yang menemukan anak tersebut mempunyai (more…)

Read More