Al-Qur’an

Ayat-ayat Al-Qur’an yang mengatur masalah perkawinan dapat disebutkan mulai adanya penegasan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup berjodoh-jodoh atau berpasang-pasangan, baik dalam dunia manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan, untuk memungkinkan terjadinya perkembangbiakan, guna melangsungkan kehidupan jenis masing-masing.

Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang perkawinan adalah sebagai berikut:

  1. Ayat 49 Surah Adz-Dzariyat menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah berpasang-pasangan.
  2. Ayat 36 Surah Yasin mengajarkan juga bahwa segala sesuatu diciptakan Allah berpasang-pasangan, baik dalam dunia tumbuh-tumbuhan, manusia dan lain-lainnya yang tidak diketahui manusia.
  3. Ayat 13 Surah Al-Hujurat menegaskan bahwa umat manusia diciptakan Allah berasal dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain.
  4. Ayat 1 Surah An-Nisa’ mengajarkan bahwa manusia diciptakan dari seorang diri (Adam) dan daripadanya diciptakan istrinya, dan dari mereka berdua Allah mengembang biakkan manusia laki-laki dan perempuan.
  5. Ayat 72 Surah An-Nahl menyatakan bahwa Allah menjadikan istri-istri umat manusia dari jenis manusia sendiri, dan dari istri-istri itu dijadikan-Nya pula anak-anak dan cucu-cucu.

Dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dapat ditarik suatu pengertian bahwa perkawinan adalah tuntutan kodrat hidup yang tujuannya antara lain adalah untuk memperoleh keturunan, guna melangsungkan kehidupan jenis.

  1. Ayat 21 Surah Ar-Rum mengajarkan bahwa diantara tanda-tanda keagungan dan kekuasaan Allah adalah diciptakan-Nya istri-istri bagi kaum laki-laki dari jenis manusia yang sama, guna menyelenggarakan kehidupan damai dan tenteram serta menimbulkan rasa kasih sayang antara suami istri khususnya dan umat manusia umumnya.
  2. Ayat 32 Surah An-Nur memerintahkan agar kepada laki-laki maupun perempuan yang belum kawin (dalam keadaan tidak kawin), padahal sudah pantas, diusahakan untuk kawin dengan diberi bantuan seperlunya. Allah berjanji akan memberikan anugerah-Nya kepada mereka yang mau melaksanakan perkawinan, tetapi dalam keadaan kekurangan, akan dicukupkan kebutuhan hidupnya. Ayat berikutnya (33), memperingatkan agar mereka yang benar-benar belum mampu melakasanakan perkawinan, dapat memelihara kesucian hidupnya, jangan mudah tergoda bujukan-bujukan setan yang menarik-narik berbuat serong (zina).

Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kedamaian dan ketentraman hidup serta menumbuhkan rasa kasih sayang antara suami isteri bersangkutan khususnya, demikian pula dikalangan keluarga yang lebih luas bahkan juga dalam kehidupan manusia umumnya.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *