Pengakuan anak dalam kategori ini sering disebut dengan pengakuan secara tidak langsung, misalnya si Fulan mengatakan bahwa seorang anak bernama Faisal adalah saudara kandung dirinya. Ini berarti bahwa si Fulan itu mengakui si Faisal sebagai  anak dari Abdullah, dimana Abdullah itu adalah ayah kandung dari orang yang bernama Fulan. Jika syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum Islam sudah terpenuhi, maka terjadilah hubungan nasab antara si Fulan dengan Faisal sebagai saudaranya dan dengan Abdullah sebagai Ayahnya.

Menurut Ahmad Husni syarat-syarat yang diperlukan dalam pengakuan anak secara tidak langsung umum sama saja dengan syarat-syarat yang diperlukan dalam pengakuan untuk diri sendiri, hanya ditambah dua poin lagi, yaitu (1) orang yang  dihubungkan nasab kepadanya, (2) ada saksi-saksi yang membenarkan pengakuan  dari orang yang dihubungkan nasab kepadanya dan saksi-saksi ini diperlukan jika orang lain yang dihubungkan dengan nasab kepadanya tidak membenarkan pengakuan tersebut.

Apabila syarat-syarat pengakuan anak baik untuk diri sendiri maupun untuk kepentingan orang lain sudah terpenuhi, maka sahlah pengakuan tersebut secara hukum. Demikian juga apabila seorang laki-laki mengadakan hubungan seksual denga seorang wanita diluar nikah, kemudian wanita tersebut hamil, lalu laki-laki tadi atau orang lain yang bukan membuahi wanita itu menikah dengan wanita hamil tadi, maka anak yang dilahirkan oleh wanita menjadi anak yang sah. Hal ini disebabkan karena dengan kesediaan laki-laki tersebut menikahi wanita hamil tadi, berarti secara diam-diam ia telah mengakui anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut, kecuali suami wanita mengingkari dengan cara lain. Ketentuan ini adalah sejalan dengan hal yang tersebut dalam fiqih syafi’i, dimana disebutkan bahwa wanita hamil karena zina dapat saja dinikahi oleh laki-laki yang tidak menghamilinya dan sah sebagai suami istri dengan segala akibat hukumnya. Jadi, laki-laki dan wanita yang menikah itu dapat melakukan hubungan seksual tanpa menunggu kelahiran anaknya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Hanafi, demikian  juga tentang kedudukan anak yang dilahirkan itu menjadi anak sah dari suami istri yang menikah itu meskipun bukan dari orang yang menghamili wanita tersebut (Ahmad Husni).

[ad#adc-1]

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *