Menurut Taufiq ada perbedaan yang prinsiple antara pengakuan anak menurut hukum Islam dengan konsep pengangkatan anak dalam hukum perdata Barat. Menurut konsep hukum Islam dan pengangkatan anak itu tidak semata-mata untuk memberikan kedudukan anak diluar nikah sebagai anak kandung, sedangkan menurut konsep hukum perdata Barat pengakuan dan pengangkatan itu semata-mata memebrikan kedudukan anak luar kawin sebagai anak kandung.

Ketentuan-ketentuan hukum Islam mengenai pengakuan anak tersebut dari segi lahir semata bukan dari segi hakikat dan agama (diyani). Sehubungan dengan hal ini, apabila seseorang mengambil anak dari rumah sakit yang tidak diketahui siapa orang tuanya mengakui sebagai anaknya, maka perbuatan ini mengakibatkan timbulnya hubungan hukum perdata antara anak yang diakui tersebut dengan orang yang mengakui sebagai anak kandung.

Untuk melakukan pengakuan anak tidak ada pembatasan waktu; seseorang dapat saja melakukan pengakuan anak kapan saja, bahkan pada saat anak yang diakui itu telah meninggal dunia sekali pun pengakuan itu dapat dibenarkan. Hanya saja dalam hal yang terakhir ini hukum Islam sangat bersikap hati-hati, jangan sampai pengakuan itu mengakibatkan timbulnya kemudharatan pada pihak lain sebab sebagian besar pengakuan yang dilakukan setelah anak itu meninggal biasanya bermotif harta warisan, bukan bermotif lain yang sebagaimana yang telah diuraikan diatas.

Apabila pengakuan anak telah dilaksanakan oleh seseorang sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan oleh hukum Islam, maka akan lahir akibat hukum yaitu timbul pertalian nasab antara yang mengakui dengan yang diakui, anak yang diakui itu menjadi anak yang sah menurut syar’i dan sama kedudukannya dengan anak hasil perkawinan yang sah dalam segala hal dan kewajiban yang timbul daripadanya. Khususnya pengakuan anak untuk orang lain, jika dibantah oleh anak yang diakuinya dan tidak ada bukti yang menguat pengakuannya, maka tidak ada akibat hukum daripadanya seperti pertalian nasab dan hak kewarisan, hubungan hanya terbatas pada hak kekeluargaan saja, seperti hak memberi nafkah, memelihara, dan memberikan pendidikan secukupnya.

[ad#adc-1]

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *