Sumber Hukum Perkawinan Dalam Islam (2)

Sunnah Rasul

Meskipun Al-Qur’an telah memberikan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan dengan amat terperinci sebagaimana disebutkan diatas, tetapi masih diperlukan adanya penjelasan-penjelasan Sunnah Rasul, baik mengenai hal-hal yang tidak disinggung maupun mengenai hal-hal yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dengan secara garis besar.

Beberapa contoh Sunnah Rasul mengenai hal-hal yang disinggung dalam Al-Qur’an dapat disebutkan antara lain sebagai berikut :

  1. Hal-hal yang berhubungan dengan walimah
  2. Tata cara peminangan
  3. Saksi dan wali dalam akad nikah
  4. Hak mengasuh anak apabila terjadi perceraian.
  5. Syarat yang disertakan dalam akad nikah.

Beberapa contoh penjelasan Sunnah Rasul tentang hal-hal yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara garis besar antara lain sebagai berikut:

  1. Pengertian “Quru” yang disebutkan dalam Al-Qur’an mengenai masa ‘iddah perempuan yang ditalak suaminya.
  2. Bilangan susuan yang mengakibatkan hubungan mahram.
  3. Besar kecil mahar (maskawin).
  4. Izin keluar rumah bagi perempuan yang mengalami masa ‘iddah talak raj’i.
  5. Perceraian yang terjadi karena li’an merupakan talak yang tidak memungkinkan bekas suami isteri kembali nikah lagi.
Read More

Sumber Hukum Perkawinan Dalam Islam (1)

Al-Qur’an

Ayat-ayat Al-Qur’an yang mengatur masalah perkawinan dapat disebutkan mulai adanya penegasan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup berjodoh-jodoh atau berpasang-pasangan, baik dalam dunia manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan, untuk memungkinkan terjadinya perkembangbiakan, guna melangsungkan kehidupan jenis masing-masing.

Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang perkawinan adalah sebagai berikut:

  1. Ayat 49 Surah Adz-Dzariyat menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah berpasang-pasangan.
  2. Ayat 36 Surah Yasin mengajarkan juga bahwa segala sesuatu diciptakan Allah berpasang-pasangan, baik dalam dunia tumbuh-tumbuhan, manusia dan lain-lainnya yang tidak diketahui manusia.
  3. Ayat 13 Surah Al-Hujurat menegaskan bahwa umat manusia diciptakan Allah berasal dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain.
  4. Ayat 1 Surah An-Nisa’ mengajarkan bahwa manusia diciptakan dari seorang diri (Adam) dan daripadanya diciptakan istrinya, dan dari mereka berdua Allah mengembang biakkan manusia laki-laki dan perempuan.
  5. Ayat 72 Surah An-Nahl menyatakan bahwa Allah menjadikan istri-istri umat manusia dari jenis manusia sendiri, dan dari istri-istri itu dijadikan-Nya pula anak-anak dan cucu-cucu.

Dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dapat ditarik suatu pengertian bahwa perkawinan adalah tuntutan kodrat hidup yang tujuannya antara lain adalah untuk memperoleh keturunan, guna melangsungkan kehidupan jenis.

  1. Ayat 21 Surah Ar-Rum mengajarkan bahwa diantara tanda-tanda keagungan dan kekuasaan Allah adalah diciptakan-Nya istri-istri bagi kaum laki-laki dari jenis manusia yang sama, guna menyelenggarakan kehidupan damai dan tenteram serta menimbulkan rasa kasih sayang antara suami istri khususnya dan umat manusia umumnya.
  2. Ayat 32 Surah An-Nur memerintahkan agar kepada laki-laki maupun perempuan yang belum kawin (dalam keadaan tidak kawin), padahal sudah pantas, diusahakan untuk kawin dengan diberi bantuan seperlunya. Allah berjanji akan memberikan anugerah-Nya kepada mereka yang mau melaksanakan perkawinan, tetapi dalam keadaan kekurangan, akan dicukupkan kebutuhan hidupnya. Ayat berikutnya (33), memperingatkan agar mereka yang benar-benar belum mampu melakasanakan perkawinan, dapat memelihara kesucian hidupnya, jangan mudah tergoda bujukan-bujukan setan yang menarik-narik berbuat serong (zina).

Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kedamaian dan ketentraman hidup serta menumbuhkan rasa kasih sayang antara suami isteri bersangkutan khususnya, demikian pula dikalangan keluarga yang lebih luas bahkan juga dalam kehidupan manusia umumnya.

Read More

Penghalang Mewarisi

Dalam hal ini ada tiga:

1. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak, secara langsung menjadi milik tuannya. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni), mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal), atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya, dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). Alhasil, semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik.

2. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya), maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.: “Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. ” Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: “Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka dia tidak mendapatkan bagiannya.” Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. Misalnya, mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat, hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash, membayar diyat, atau membayar kafarat. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. Sedangkan menurut mazhab Syafi’i, pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris, sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam, atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. Menurut saya, pendapat mazhab Hambali yang paling adil.

3. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim, apa pun agamanya. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. dalam sabdanya: “Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir, dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim.” (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian, termasuk keempat imam mujtahid. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu’adz bin Jabal r.a. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir, tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya’lu walaayu’la ‘alaihi (unggul, tidak ada yang mengunggulinya). Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi, yakni murtad. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama, karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam.

Read More