Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam reality kehidupan manusia. Dengan adanya perkawinan rumah tangga dapat di tegakkan dan dibina sesuai dengan norma agama dan tata kehidupan masyarakat. Dalam rumah tangga berkumpul dua insane yang berlainan jenis (suami-istri), mereka saling berhubungan agar mendapat keturunan sebagai penerus generasi. Insan-insan yang berada dalam rumah tangga itulah yang disebut keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dari suatu bangsa, keluarga yang dicita-citakan dalam ikatan perkawinan yang sah adalah keluarga sejahtera dan bahagia yang selalu mendapatkan ridha Allah SWT.

Untuk membentuk keluarga yang sejahtera dan bahagia sebagaimana tersebut diatas, maka diperlukan perkawinan. Tidak ada tanpa adanya perkawinan yang sah sesuai tata aturan yang berlaku. Kuat lemahnya perkawinan yang ditegakkan dan dibina oleh suami istri tersebut sangat tergantung pada kehendak dan niat suami istri yang melaksanakan perkawinan. Oleh karena itu, dalam suatu perkawinan diperlukan adanya cinta lahir batin antara pasangan suami istri tersebut. Perkawinan yang dibangun dengan cinta yang semu (tidak lahir batin), maka perkawinan yang demikian itu biasanya tidak berumur lama dan berakhir dengan suatu perceraian. Apabila perkawinan sudah berakhir dengan suatu maka yang menanggung akibatnya adalah keluarga yang biasanya sangat memprihatinkan.

Perkawinan adalah sendi keluarga, sedangkan keluarga adalah sendi di masyarakat, bangsa, dan umat manusia. Hanya bangsa yang tidak mengenal nilai-nilai hidup dan nilai-nilai kehormatan yang tidak mengutamakan tata aturan perkawinan. Oleh karena itu, masalah perkawinan ini dengan prolog dan epilognya, pengamanan, dan pengamalan tata aturannya adalah menjadi tugas suci bagi seluruh warga Indonesia. Tepat sekali apa yang dikemukakan oleh Prof. Dr. H. A. Mukti Ali, M.A., ketika pejabat sebagai Mentri Agama RI dalam ceramahnya yang disampaikan pada kursus PB4 yang diselenggarakan oleh PB4 Pusat di Masjid Sunda Kelapa Jakarta, antara lain mengemukakan bahwa kalau orang bertanya bagaimana cara membangun negara yang kuat, maka jawabnya ialah negara yang kuat dibangun dari rumah tangga yang kuat, Negara yang adil dibangun dari rumah tangga yang adil, Negara yang makmur dibangun dari keluarga yang makmur. Jadi, kalau ingin membangun Negara, maka sebaiknya keluarga harus dibangu terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya, tanpa membangun keluarga dengan sebaik-baiknya maka mustahil akan tercapai pembangunan Negara yang sedang dilaksanakan ini.

Dalam agama samawi, masalah perkawinan mendapat tempat yang sangat terhormat dan sangat terjunjung tinggi tata aturan yang telah ditetapkan dalam kitab suci. Demikian juga Negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, masalah perkawinan merupakan suatu hal yang sangat prinsip dalam suatu kehidupan masyarakat, dan sangat dihormati aturan pelaksanaan sehingga pelaksanaan perkawinan itu sesuai dengan norma dan prinsip yang telah disepakati bersama. Demikian pula dengan Negara Indonesia, masalah perkawinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa bernegara, sehingga pemerintah Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan hingga sekarang menarik perhatian yang sangat serius dalam hal perkawinan ini. Banyak aturan perundang-undangan telah dibuat untuk mengatur masalah perkawianan ini, terakhir adalah lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975, serta beberap peraturan lain yang intinya mengatur tentang perkawinan agar dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan itu.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *